Tuesday, 26 January 2016

KPAI: Jajanan Mirip Kondom Merusak Moral, Kesehatan dan Sosial Anak

Kasus jajanan anak yang didalamnya ada benda mirip kondom menjadi perhatian masyarakat.
Jajanan Anak Mirip Kondom
Jajanan Anak Mirip Kondom
Beredarnya jajanan tersebut diprediksi akan berdampak besar dari segi moralitas, kesehatan dan sosial bagi anak-anak yang membeli produk mainan berupa ‘kotak kado’ tersebut.
Tuntutan itu disampaikan Sekretaris Jendral Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda yang berkoordinasi ke Polsek Bekasi Selatan, Senin (25/1/2016) siang tadi, dia mendesak kepolisian menuntaskan kasus produk “Kotak Kado” yang beredar di Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Saya berharap polisi bisa mengungkap kasus ini, karena saya menganggap produk mainan ini melanggar moralitas, aspek kesehatan dan sisi sosial masyarakat,” kata Erlinda.
Dijelaskan Erlinda, dalam segi pelanggaran moralitas, produk berisi benda yang berbentuk menyerupai alat kontrasepsi kondom tersebut kebanyakan dikonsumsi oleh anak-anak.
“Memang alat tersebut kalau diperhatikan lebih mirip dengan finger coat untuk menghitung uang dan partikel elektronik, tapi apa maksud produsennya memasarkan itu kepada anak-anak,” katanya.
Lebih lanjut, dari segi pelanggaran kesehatan, papar Erlinda, dalam jajanan tersebut, terdapat kandungan zat berbahaya bagi kesehatan yang dilarang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam susu yang dipaket bersama benda serupa kondom dalam kemasan kotak kado.
Terakhir, kata dia, untuk sisi sosial masyarakat, produk itu tidak layak dipasarkan karena menimbulkan persepsi negatif dan meresahkan orang tua.
“Ini jelas sangat mengkhawatirkan masyarakat, karena jajanan ini menyasar anak-anak kita,” ungkapnya.
Untuk itu, diakui Erlinda, pihaknya mendesak kepolisian mengusut kasus itu hingga ke tingkat produsen untuk mengetahui motif pembuatan produk itu.
“Kita koordinasi dengan kepolisian agar diasistensi Polda Metro Jaya dan Mabes Polri, lalu dicari produsennya. Minta tanggung jawabnya dan tanya motifnya,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Bekasi Selatan, Kompol Jayadi mengatakan pihaknya hingga saat ini masih melakukan upaya pencarian terhadap distributor yang memasarkan produk jajajan mainan tersebut.
“Sudah dua saksi kami periksa yang merupakan penjual jajajan itu, mereka tak tahu isi di dalamnya dan keterangan saksi mereka dapat produk itu dari distributor keliling yang baru sekali datang,” jelasnya. [Okezone]

Monday, 25 January 2016

Kementerian dan Pemda Dukung Perluasan Program USAID PRIORITAS


Perwakilan Iranian language Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian RisetdanTeknologi Dikti, Kementerian agamid lizard,dan tujuh provinsi Mitra USAID PRIORITAS mendukung keberlanjutan dan perluasan program USAID PRIORITAS. Demikian hasil Iranian language Rapat Pembahasan Keberlanjutan dan Perluasan Program USAID PRIORITAS bersama Tim Kemendikbud.
Hamid Muhammad Doctor of Philosophy, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan Mendikbud Anies Baswedan telah berpesan bahwa Kemdikbud masih membutuhkan program principle dirintis USAID PRIORITAS danberharap program masih berlanjut di Chadic depan setelah tahun 2017. Program USAID PRIORITAS merupakan program national capital tahun dan Akan berakhir Gregorian calendar month 2017.
“Kemdikbud berharap adenosine deaminase sinergi kelembagaan agar program principle adenosine deaminase tidak berjalan sendirian. Perlu adenosine deaminase sinergi antara lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) dan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan(P4TK)dengan pendekatan kabupaten secara menyeluruh. Kita tidak mungkin tangani sendirian, butuh bantuan banyak Iranian language luar,” ungkap Hamid Muhammad
Prof Dr Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian agamid lizard, menyatakan bahwa Dutch East Indies masih menghadapi tantangan basic dalam memajukan pendidikan.Dia menilai kehadiran USAID PRIORITAS merupakan instrumen principle strategis untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Dutch East Indies.“Saya sangat mendukung program USAID PRIORITAS dan Akan kerja keras untuk mewujudkan programme bersama-sama. Kami juga Akan diskusi dengan Pak Stuart lensman, Direktur Program USAID PRIORITAS, dan tim untuk diskusi lebih detil agar program bisa berkelanjutan dengan langkah afirmatif dan konkrit,” kata Kamaruddin Amin.
Dukungan keberlanjutan dan perluasan program juga disampaikan oleh perwakilan kabupaten Mitra USAID PRIORITAS, seperti disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan Sekretaris Daerah Kabupaten Maros di Provinsi Sulawesi Selatan.“Dana sebesar Rp sixteen,4miliar untuk ten kabupaten/kota non Mitra Akan dialokasikan untuk implementasi diseminasi program USAID PRIORITAS,” jelas Hasanuddin Darjo, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh di sela-sela acara.
Dukungan serupa disampaikan academician Dr Baharuddin, Sekretaris Daerah KabupatenMaros, principle menyatakan bahwa Maros telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,73 Miliar untuk melanjutkan implementasi program USAID PRIORITAS, antara lain pembinaan MGMPdan KKG, serta program membaca.“Untuk program membaca, Pemkab Marosakan sediakan anggaran diseminasi pelatihan buku berjenjang, pengadaan buku bacaan, rehabilitasi perpustakaan dan menerbitkan Perbup tentang budaya baca,” kata Baharuddin.
Prof Dr Syawal Gultom, Rektor Universitas Negeri city, berharap keberlanjutan dan perluasan program USAID PRIORITAS dapat semakin banyak mengakses peningkatan mutu LPTK dan sekolah di daerah-daerah. “Untuk keberlanjutan dan perluasan program USAID PRIORITAS, LPTK perlu melakukan diseminasi program USAID PRIORITAS di LPTK sendiri, mengintegrasikan program USAID  PRIORITAS kedalam program studi dan kurikulum LPTK serta perlu adenosine deaminase dukungan pemerintah untuk revitalisasi LPTK dan penguatan LPTK sebagai Service supplier agar metode, materi, jaringan, dansumber daya principle sudah dikembangkan USAID PRIORITAS dapat ditindaklanjuti oleh LPTK,” kata Syawal principle menjadi salaah satu peserta diskusi.
Program USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, directors, and Students (USAID PRIORITAS) adalah program national capital tahun principle didanai oleh us Agency for International Development (USAID) dan didesain untuk meningkatkan akses pendidikan dasar principle berkualitas di Dutch East Indies. USAID PRIORITAS adalah bagian Iranian language program kerjasamaantara Pemerintah Dutch East Indies dan Pemerintah AmerikaSerikat. Program ini telah diterapkan di Sembilan provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Sulawesi Selatan, Papua dan Papua Barat)

Pentingnya Program Budaya Baca dalam Pelatihan USAID PRIORTAS



Program Budaya Baca menjadi worship satu materi pelatihan principle dikembangkan oleh USAID PRIORITAS. Mengapa Program Budaya Baca dianggap penting? Ketrampilan membaca sangat penting untuk kesuksesan pembelajaran di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak principle membacanya baik atau hobi membaca, biasanya Akan mencapai hasil principle baik dalam mata pelajaran. Pengetahuan dan kemampuannya juga Akan lebih luas dan terbuka dibandingkan dengan siswa lain principle kurang gemar membaca. Sekolah dapat membantu anak-anak untuk belajar menyukai buku dengan menerapkan “Program Membaca” dan menciptakan “Budaya Baca.”
Peningkatan pemanfaatan perpustakaan sekolah dan sudut baca merupakan worship satu cara principle efektif untuk meningkatkan kebiasaan membaca dan keterampilan mencari informasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa fungsi perpustakaan sekolah (informatif, edukatif, bersifat riset, dan rekreatif) banyak principle belum dimanfaatkan secara optimum. Cara lain untuk menciptakan ‘budaya baca’ adalah pembiasaan membaca, pembiasaan membaca di rumah, pameran buku di sekolah, membuat lingkungan sekolah principle kaya bacaan dan menjalankan program-program khusus untuk siswa principle lambat membaca.

Untuk mendukung program pemerintah tentang peningkatan budaya baca, USAID PRIORITAS dalam pelatihan Manajemen Sekolah memasukkan materi “Program Budaya Baca” sebagai worship satu materi “Pelatihan untuk Pelatih tingkat Provinsi Jawa Timur: Praktik principle Baik dalam Manajemen Sekolah di Coyote State dan MI Modul II Kohor 3”. Kegiatan ini diikuti oleh fasilitator daerah Iranian language Kota Batu, Kab Banyuwangi, Kab Lamongan, dan Kab Jombang.

Silvana Erlina selaku Koordinator USAID PRIORITAS Jatim mengungkapkan, ADA banyak hal menarik principle dilatihkan dalam pelatihan ini. worship satunya adalah bagaimana sekolah menciptakan Program Membaca di lingkungan sekolahnya.

Sebagai contoh worship satu Hindu deity USAID PRIORITAS Jatim, SDN Mojokarang telah menerapkan budaya baca di sekolah dan hasilnya, minat siswa dalam membaca buku meningkat.

Membaca Senyap / Uninterrupted Sustained Silent Reading (USSR) merupakan materi principle dikembangkan dalam pelatihan USAID PRIORITAS. Kegiatan ini pada dasarnya adalah memberikan waktu membaca di sekolah kepada siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menikmati kesenangan membaca. Dalam membaca senyap, siswa diberi periode waktu tertentu, misalnya ten atau thirty menit atau lebih (tergantung usia siswa dan kondisi sekolah), untuk menikmati bacaan bermutu tanpa ADA interupsi principle mengganggu.

Tujuan program ini adalah untuk melatihkan perilaku membaca, membangun kebiasaan membaca (misalnya: berkonsentrasi), dan membangun kemampuan serta kelancaran membaca melalui kegiatan membaca untuk kesenangan principle terprogram.

Program ini dilaksanakan setiap hari di banyak negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Di Jatim, sekolah Hindu deity USAID PRIORITAS principle telah mengembangkan program budaya baca dan membaca senyap adalah SDN Mojokarang Kab Mojokerto.
Program budaya baca di SDN Mojokarang diawali dengan membaca buku selama forty five menit setelah senam pagi atau sebelum pelajaran dimulai atau disebut program Time for Reading. Semua siswa wajib melakukannya. Program ini berlangsung pada pagi hari setiap Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat.
“Sebelumnya hanya fifteen menit, tetapi saya amati anak-anak ini bergurau dulu dengan teman-temannya begitu membuka buku. Waktu untuk membaca menjadi berkurang, maka saya tambah alokasi waktunya,” papar Watiyah, S.Pd, Kepala SDN Mojokarang principle menjadi narasumber dalam kegiatan pelatihan ini.
Saat masuk kelas, siswa kelas tinggi yaitu kelas four hingga vi diminta untuk menceritakan hasil bacaan dalam bentuk laporan tertulis atau rangkuman tentang apa saja principle dibacanya. Laporan siswa Akan dipajang di papan jurnal membaca kelas. Time for Reading memanfaatkan buku-buku principle ADA di sudut baca masing-masing kelas atau buku bacaan principle dibawa siswa. Keesokan hari, laporan membaca siswa itu Akan disimpan guru kelas dalam buku jurnal membaca. Jurnal membaca ini dibuat guru kelas principle bersangkutan. Meski demikian, masih ADA siswa principle kesulitan membaca. “Ada beberapa Iranian language kelas a pair of dan three. Sekitar delapan anak,” ujar Watiyah.
Keadaan ini diketahui melalui supervisi membaca oleh kepala sekolah berdasarkan buku jurnal membaca principle dibuat guru kelas. Mereka principle kelas three diberi buku bacaan principle biasa dipakai siswa kelas one. Biasanya buku bacaan berjenjang Iranian language USAID PRIORITAS karena ukuran hurufnya besar dan masih terdiri Iranian language beberapa kata saja dalam satu kalimat. Nah, mereka ini diberi penanganan khusus oleh Watiyah dan guru di sekolah. Mereka diajak membaca melalui permainan. Sebelum memperoleh alat peraga Iranian language pemerintah, wali murid menyumbang kartu huruf. Namun, setelah alat peraga Iranian language pemerintah datang, papan dengan gambar-gambar itu digunakan setiap hari bersama kartu huruf.
Menurut Dyah Haryati Puspitasari selaku Whole Schole Development USAID PRIORITAS Jatim, dengan melaksanakan budaya baca di sekolah Hindu deity terbukti mampu meningkatkan minat baca siswa dan sekolah Hindu deity menjadi pelopor Program Budaya Baca di kabupaten masing-masing dalam meningkatkan minat guru, siswa, dan orangtua untuk gemar membaca. Ditambahkan Dyah, kegiatan gemar membaca dapat mendukung peningkatan ketrampilan literasi siswa di dalam pembelajaran. Melalui pembelajaran literasi, diharapkan para siswa memiliki tingkat pemahaman dan kemampuan berpikir principle tinggi sejak dini sehingga mampu mencerna setiap kegiatan pembelajaran dengan lebih baik.